Ritel adalah kegiatan menjual barang atau jasa dalam jumlah yang kecil untuk konsumsi pribadi dan langsung dijual ke konsumen akhir melalui toko fisik atau online. Jika Anda ingin memulai bisnis di ritel atau mencari peluang kerja di toko ritel maka artikel ini akan membantu Anda memahami segalanya tentang ritel modern melalui data ter-update 2026.
Ini bukan asumsi, tetapi kami merangkum hasil survei-survei mystery shopping Morrigan yang dilakukan untuk 3 ritel besar. Setelah memahami peran ritel Indonesia sebagai jembatan dalam rantai pasokan yang menghubungkan produsen dan konsumen, kami menemukan temuan dan fakta mengenai ritel modern yang mungkin perlu Anda ketahui.
Sistem Kerja yang Biasa Digunakan Pada Bisnis Ritel
Sistem kerja yang biasa digunakan pada bisnis ritel adalah menghubungkan produsen dengan konsumen secara langsung. Bisnis ini adalah peluang emas untuk Anda karena produk-produk rumah tangga yang esensial atau jasa yang selalu dicari masih dibutuhkan oleh masyarakat, bahkan saat dunia sedang krisis.
Ini juga kabar baik untuk Anda yang mengincar peluang kerja di ritel. Simak alasannya di bawah ini.
Contoh Ritel dan Sistem Kerja Modern
Ada setidaknya 3 contoh ritel yang hingga saat ini masih eksis di Indonesia, yaitu toko fisik (supermarket, minimarket, butik, dan toko barang elektronik), toko online (Shopee, Tokopedia, Lazada, dan sejenisnya), serta layanan ritel (salon dan restoran cepat saji).
Biasanya ritel akan menggunakan teknologi, seperti manajemen inventaris, CRM (manajemen hubungan pelanggan), sistem shifting, dan Point of Sale (POS). Jika Anda ingin bekerja di ritel, membuka bisnis ritel, atau mengembangkan usaha ritel maka hasil survei layanan yang kami lakukan untuk 3 ritel Indonesia akan membantu Anda.
1. Tidak sedikit bisnis yang merasa aman karena tidak ada keluhan yang masuk. Toko berjalan normal, transaksi masih ada, dan Customer Service tidak mendapatkan komplain. Namun, saat evaluasi atau audit dilakukan, ternyata layanan belum optimal di jam sibuk karena staf kurang peka sehingga segelintir rak kosong dan fitting room berantakan.
2. Kadang terjadi situasi yang berisiko. Misalnya, pelanggan enggan balik lagi ke toko padahal tidak ada masalah. Banyak bisnis yang menganggap ini hanya siklus alami. Namun, Morrigan melihat dari sudut pandang lain. Ini adalah masalah nyata yang membutuhkan solusi.
Sebelum Anda masuk ke industri ritel, baik sebagai pekerja atau pemilik bisnis maka penting bagi Anda untuk memahami masalah yang terjadi di ritel Indonesia.
Masalah Ritel di Indonesia Berdasarkan Hasil Survei (Update)
Faktanya, masalah ritel di Indonesia kebanyakan tentang daya beli masyarakat menurun, tren belanja yang berubah, operasional toko yang mahal, hingga logistik yang tidak efisien. Layanan ritel dan toko online pun menghadapi masalah serupa, yaitu persaingan antaraplikasi, kompetisi harga, hingga saling sikut dengan kompetitor melalui black campaign.

Selain masalah-masalah krusial di atas, sebenarnya ada satu masalah yang kurang dibicarakan, yaitu kualitas layanan. Kami telah menangani 3 ritel besar yang tidak hanya mengembangkan layanan hingga ke aplikasi, tapi juga menjaga kualitas offline store. Dari 3 ritel ini, Morrigan menemukan bahwa konsumen punya celah untuk beralih ke brand lain karena masih ada satu hingga dua pilihan di luar sana.
Ritel adalah Pertarungan Retensi, Bukan Sekadar Diskon di Aplikasi
Ritel Indonesia sering goyah karena rentention rate yang rendah. Pelanggan tidak kembali lagi setelah coba beli satu atau dua produk. Hal ini bikin customer acquisition cost menjadi mahal dan ritel perlu bakar budget ke promosi, iklan, paket bundling, bahkan pengembangan aplikasi yang butuh waktu. Padahal ada masalah yang tidak dilirik sama sekali, yaitu kualitas layanan yang makin anjlok dari hari ke hari.
Konsumen selalu punya pilihan beralih ke brand lain. Selagi ada paket bundling, diskon, atau sekadar keuntungan kecil membership maka ritel bisa kehilangan pelanggan. Namun, ceritanya akan berbeda kalau pelanggan benar-benar puas. Tidak hanya dilayani dengan baik, tapi didengarkan dan diperlakukan dengan ekstra.
Itulah yang terjadi pada 3 klien kami. Kami melihat pertumbuhan klien yang kini memiliki staf-staf dengan pelayanan ekstra, seperti membawakan keranjang belanja dan menemani proses belanja dengan telaten.
Apa dampaknya? Ritel tersebut masih bertahan. Inilah yang diharapkan para pemilik bisnis ritel. Kali ini kami akan membagikan apa saja yang kami temukan di lapangan melalui survei mystery shopping yang dirancang khusus untuk evaluasi layanan.
Masalah di Toko Ritel Terungkap Lewat Survei Mystery Shopping
Dalam bisnis ritel, staf adalah wajah utama brand yang dilihat pertama kali oleh pelanggan. Cara staf menyapa, memahami kebutuhan, hingga memberi rekomendasi produk menentukan penilaian pelanggan terhadap toko. Hasil survei kami menunjukkan 4 temuan ini:

Hasil survei ini menjadi pegangan bagi bisnis ritel agar tidak mengandalkan layanan Customer Service saja. Tanpa evaluasi dari sudut pandang pelanggan secara langsung maka ada banyak masalah luput dari perhatian. Di sinilah, mystery shopping menjadi alat penting untuk melihat realitas di lapangan bukan dari asumsi, tetapi langsung dari sudut pandang pelanggan.
Di Morrigan, konsultasi disediakan gratis selama jam operasional (08.30 – 17.30 WIB) via WhatsApp (+62 811-1996-5630). Anda dapat mengenal kami melalui artikel-artikel yang secara khusus ditulis oleh tim berpengalaman yang telah membantu klien-klien Morrigan mencapai tujuan bisnis.
Jika Anda ingin tahu lebih lanjut tentang mystery shopping, berikut kami sediakan rangkuman temuan yang ditemukan lewat survei ini.
Temuan dari Mystery Shopping: Peran Penting Staf di Ritel
1. Staf Ritel adalah Wajah dari Brand
Cara staf menyapa, hingga menangani kebutuhan pelanggan akan membentuk kesan pertama yang sulit dilupakan. Sebelum pelanggan menilai kualitas produk, mereka lebih dulu menilai sikap dan pelayanan yang diberikan.
Oleh karena itu, kualitas layanan staf menjadi aspek utama yang kami nilai lewat survei.
2. Staf Ritel Menciptakan Pengalaman Belanja yang Berkesan
Respons yang cepat terhadap pertanyaan dan keluhan menjadi indikator penting yang kami nilai. Ketika staf mampu memberikan jawaban dan solusi yang tepat tanpa membuat pelanggan menunggu lama maka rasa percaya terhadap brand akan meningkat.
3. Staf Ritel adalah Pembelajar yang Siap Terima Masukan
Staf yang mau mendengar masukan pelanggan adalah fondasi penting bagi ritel. Ini yang akan membuat ritel terus berkembang. Kemampuan staf untuk menerima kritik dengan sikap positif juga menunjukkan profesionalisme dan kemauan bertumbuh. Dalam jangka panjang, budaya ini akan meningkatkan kualitas layanan dan mencegah bisnis menghadapi isu employee fraud.
Mau konsultasi gratis mengenai bisnis ritel Anda atau tanya-tanya peluang kerja sampingan di toko ritel sebagai partisipan survei (msytery shopper)? Hubungi Morrigan: Klik jika Anda siap.
Fani Fatmawati
SEO Writer
Fani adalah penulis yang gemar mengeksplorasi perspektif baru lewat berbagai kegiatan sosial dan kesukarelawanan. Pengalaman terjun langsung ke masyarakat membentuk gaya tulisannya yang ringan, humanis, dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan.
Melalui tulisannya di Morrigan Services, Fani memiliki visi untuk memperkenalkan metode survei mystery shopping sebagai peluang yang inklusif. Ia berkomitmen menunjukkan bahwa program ini tidak hanya bermanfaat bagi riset, tetapi juga memberikan keuntungan nyata bagi masyarakat luas.
Gheani Kirani B.T
SEO Specialist & Digital Growth Marketer
Gheani adalah spesialis digital growth yang telah berkecimpung di bidang performance marketing untuk rekrutmen survei nasional selama lebih dari setahun. Berbekal pengalaman penulisan selama lebih dari 2 tahun, serta keahlian SEO dan advertising yang hampir mencapai 2 tahun, Gheani berpengalaman menjalin komunikasi efektif dengan ribuan kandidat di seluruh Indonesia.
Melalui perannya sebagai editor bahasa dan SEO Specialist yang mengelola program survei di Morrigan, Gheani berperan aktif menjembatani warga lokal dengan peluang survei mystery shopping di Morrigan.
